Feature: Adaptasi Untuk Mampu dan Berani
Di lantai 3 tepat di sudut ruangan kelas perkuliahan, tampak
sosok perempuan duduk sembari
bercengkerama dengan teman-temannya. Memakai jilbab hitam, baju hitam dan celana
jeans berwarna cerah yakni biru. Sedang tawa bersama
teman-temannya sayup-sayup terdengar. Tawanya yang terbahak-bahak membuat
orang-orang disekelilingnya ikut tertawa. Sosok perempuan
itu bernama Melati
Gita Permatasari. Yap betul, sosok perempuan tersebut adalah aku sendiri.
Perkenalkan nama aku Melati Gita
Permatasari, lahir di Tangerang Selatan
pada tanggal 06 Juni 2003. Umur aku 19 tahun. Aku anak kedua
dari dua bersaudara. Ayah aku berasal
dari Jawa kota Yogyakarta, sedangkan ibu aku berasal
dari betawi di Tanah Abang. Kakak aku laki-laki
berusia 27 tahun.
Ketika
awal masuk kuliah, aku tidak ikut dalam organisasi baik internal maupun
eksternal kampus. Karena aku merasa belum ada rasa ketertarikan untuk
aktif dalam hal yang berkaitan dengan organisasi. Tetapi aku begitu tertarik dengan jurusan
yang saat ini sedang dijalaninya. Kesukaan salah satu
mata kuliah yaitu Penulisan Berita membuat aku menginginkan wadah yang tepat
untuk dijalaninya selama tiga tahun kedepan.
Namun,
sebelum daftar di Politeknik Negeri Jakarta aku daftar kampus-kampus negeri lainnya
dengan jurusan yang aku
minati yakni Ilmu Komunikasi dan sempat berfikir berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi yang
berlawanan dengan kemampuan aku. Tak begitu mampu berkomunikasi
dengan baik membuat aku pesimis dalam perkuliahan
nantinya.
Aku sudah coba daftar kampus negeri lain dengan
jurusan Ilmu Komunikasi tapi bukan rezeki aku pada akhirnya. Politeknik Negeri
Jakarta pilihan kampus negeri terakhir aku yang dimana aku ikhlaskan
pengumumannya artinya berserah diri kepada Allah SWT. Alhamdulillah aku lolos
jalur SBMPN pilihan pertama Penerbitan (jurnalistik) alasan aku memilih pilihan
pertama ini karena masih cocok dengan Ilmu Komunikasi.
Awalnya sempat ragu memilih Politeknik Negeri Jakarta
karena jauh dengan tempat tinggal aku sendiri seperti ujung ke ujung.
Politeknik Negeri Jakarta berada di Depok rumahku berada di Tangerang Selatan.
Yang dimana aku ngerasa jika ngekost belum siap, akhirnya memutuskan untuk
pulang pergi perjalanan dari rumah ke kampus dengan naik kereta. Cukup cape,
tetapi aku merasa juga harus berjuang untuk pendidikan tidak ada alasan untuk
mengeluh.
Saat aku sekolah selalu diantar jemput kesekolah
dengan orang tua, jika ada kerja kelompok pun seringkali ditemani oleh ayah
ibuku. Aku tidak pernah bebas sendiri, waktu begitu cepat aku sudah mulai
memasuki dunia perkuliahan dan aku diterima oleh kampus negeri yang begitu
menantang buat diriku.
Beberapa kali saat awal-awal ada kelas offline aku
masih yang ditemani mama untuk memahami serta belajar naik kereta yang dimana
aku tidak tahu rute perjalanan kekampusku. Percobaan ketiga kali aku naik
kereta api sendiri hingga sampai kekampusku.
Awalnya, aku cukup takut karena belum terbiasa dengan
kepadatan orang-orang yang naik kereta untuk berkegiatan seperti kerja, kuliah,
dan lainnya. Hingga keesokannya aku mulai terbiasa untuk menjalani hari dengan
kepadatannya penumpang kereta api. Terkadang dikereta aku suka melamunkan dan
memikirkan hal kalau aku sekuat ini hingga pernah meneteskan air mata karena
rasa haru kepada diri sendiri.
Setiap subuh sudah harus rapih jika ada kelas pukul
08.00 WIB perjalanan rumah ke kampus itu cukup memakan waktu lama yakni 2 jam
perjalanan. Tapi lama-lama aku sudah terbiasa dengan hal ini jadi untuk apa aku
mengeluh karena bukan jadi solusi. Aku harus semangat melewatkan hal ini.
Senangnya lagi, aku sudah memberanikan diri untuk berkomunikasi atau berbicara
sesama penumpang kereta api.
Seringkali tertidur pulas dikereta api karena cukup
ngantuk pagi buta aku sudah melanjutkan perjalanan kekampus, pun aku pernah
merasakannya dikala perjalanan pulang kerumah karena cukup lelah dengan
kegiatan seharian dikampus.
Kemudian entah apa yang ada dipikirannya saat itu, saat aku memilih jurusan yang aku rasa
menarik untuk ditantang karena kurangnya kemampuan dalam berkomunikasi. Namun, aku
adalah sosok yang
suka bergaul. Aku menantang diri masuk
di program studi Penerbitan (jurnalistik) agar kelak setelah tamat, aku
mampu berkomunikasi
dengan baik mengingat komunikasi adalah hal terpenting dalam setiap aktivitas.
Demi
mengatasi keterbatasannya itu, aku pun memutuskan untuk tidak sekedar
KUPU-KUPU (Kuliah Pulang-Kuliah Pulang). Aku mulai aktif dalam organisasi internal
jurusan dan aku
juga aktif mengikuti
berbagai acara dan kegiatan yang menurutnya bisa menjadikannya pandai dalam
berkomunikasi.
Pada saat semester 1, aku sama sekali tidak mengikuti
kegiatan apapun karena aku merasa trauma dengan adanya penolakan atau tidak
lolos saat mengikuti salah satu UKM yang ada di Politeknik Negeri Jakarta yaitu
GEMA. Awal menjadi mahasiswa baru aku sangat semangat & fokus untuk daftar
GEMA yang tidak ada rencana lain untuk mendaftar UKM lainnya. Disitulah aku
merasa tidak percaya diri, kecewa, dan juga trauma.
Sampai akhirnya aku memiliki rasa bangkit untuk
memaksimalkan kualitas dari diri aku, mulai daftar kepanitiaan jurusan karena keikutsertaannya dalam berbagai
rangkaian acara jurusan memaksanya untuk berkomunikasi. Perlahan-lahan aku
bisa berkomunikasi
meski belum begitu tepat namun aku sudah mampu berbicara di depan
orang banyak.
Selain itu aku masih memiliki rasa ketertarikan dan
penasaran terhadap UKM di Politeknik Negeri Jakarta, saat tingkat 2 lebih
tepatnya aku semester 3 daftar Poros FM yang merupakan UKM yang bergerak
dibidang radio. Setelah mengikuti tahapan seleksi saat pengumuman aku lolos di
divisi Script Writer aku memilih divisi tersebut karena ingin mengembangkan
skill penulisan atau naskah yang aku buat, tentu menurut aku ini ada kaitannya
dengan program studi aku sendiri.
Dari
mulai pertanyaan-pertanyaan ringan hingga berat harus dijawabnya dengan sigap,
sebab bila aku tak tanggap, orang-orang akan ragu
dengan diri aku.
Beragam pertanyaan dari mulai pendaftar atau hanya sekedar bertanya-tanya
membuatnya harus menyiapkan jawaban bagus yang bisa membuat orang tertarik
untuk mendaftar dan mengharuskannya berkomunikasi dengan bagus kepada
orang-orang disekitarnya.
Keaktifannya
berorganisasi bertambah karena terpilihnya aku menjadi
crew aktif Poros FM. Aku pun
semakin menjadi-jadi dalam menantang dirinya agar terus mampu berkomunikasi
dengan baik. Aku terus berusaha untuk memulai pembicaraan dengan
seseorang karena merupakan salah satu keberanian dalam komunikasi.
Selain
karena ingin terus memberanikan diri berkomunikasi, aku juga harus bersungguh-sungguh
menjalankan amanah yang sedang dijalani. Setiap harinya saya
bangun pagi untuk kuliah dan berorganisasi kemudian
jika ada tugas yang hari itu juga harus dikumpulkan aku bermain ke kost teman aku
dekat dengan keberadaan Politeknik Negeri Jakarta.
Pelajaran-pelajaran
yang dijalananinya dalam mata kuliah Penerbitan (jurnalistik) memaksaku untuk bisa dan mampu dalam
menjalaninya. Hingga membuatku kini tak begitu malu seperti dulu
saat aku masih duduk di bangku SMA. Usahaku untuk berani berkomunikasi
berhasil. Aktifitas organisasi, hingga kuliah dikerjakannya secara rutin.
Berharap, kelak aku
mampu menjadi sosok
wanita yang mampu berkomunikasi dengan baik di depan umum.
Dan aku berharap dengan apa yang aku jalani sekarang menjadi sebuah kebanggaan orang tua serta keluarga. Aku begitu yakin dengan sebuah proses ini menjadi salah satu cerita masa depan. Dan Memang benar bahwa tak semua orang tua adalah orang tua yang baik, tapi paling tidak kebanyakan dari mereka selalu berusaha melakukan yang terbaik yang mereka mampu untuk kebahagiaan anak-anaknya.
Orangtua adalah sosok yang sangat berharga dan paling berjasa di kehidupanku. Selain berjasa karena telah melahirkanku di dunia,
orangtua juga selalu menyediakan waktu dan tenaganya untuk mendukung
keberhasilan anaknya. Pengorbanan orangtua dalam membesarkan dan mendidik anak memang
tiada duanya. Ungkapan terima kasih dan berjuta kata-kata untuk orangtua tak akan mampu membalas kebaikannya.
Di balik kesuksesan seorang anak, tentulah orang tua yang
berperan penting di dalamnya karena mereka selalu mendukung, tak hanya dari
segi materi, tapi juga untaian doa yang selalu dipanjatkannya. Dengan kalimat tersebut aku percaya cerita ini
merupakan proses aku untuk masa depan yang cerah.
Komentar
Posting Komentar