Herman Syahara, Memiliki Karya Antologi Puisi
Jakarta - Herman Syahara ini suka menulis puisi sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP)
dengan karya pertamanya yang dimuat di Surat Kabar Sinar Harapan. Antologi
puisi tunggalnya terbit pada 2016 dengan judul ‘Mahkamah Untuk Secangkir Kopi’
dengan karyanya yang juga masuk dalam puisi favorit Antologi Puisi Yang Melukis
Tanahmu Sepanjang Masa.
Herman Syahara pun salah satu panitia dalam
acara Puncak Perayaan Hari Puisi Indonesia di Teater kecil Taman Ismail
Marzuki Jl. Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat. Ia menjelaskan bahwa Hari
Puisi Indonesia ini didirikan oleh Maman Mahayana dan Rekan-rekan senior
penyair lainnya.
Hari Puisi Indonesia itu punya yayasan
bernama Yayasan Hari Puisi Indonesia (
YHPI ) kemudian acara ini sudah ke sembilan kali diselenggarakan. Acara ini
digelar selama 3 hari, hari pertama itu
peluncuran buku, hari kedua itu seminar internasional, hari ketiga itu penutup
ada pembaca puisi, ada penyair, dan duta - duta besar, pidato kebudayaan, ada
pidatonya gubernur Jakarta, ada acara pembagian pemenang 5 puisi buku utama.
Kemudian ada beberapa mahasiswa bertanya
kepada Herman Syahara salah satunya yaitu Ryan Rahardyansyah “Kira-Kira ada saran tidak untuk para
milenial dalam membuat penulisan puisi?“ ucapnya. “Hambatan untuk milenial itu bukan dari luar tapi dari kita sendiri ada
rasa malu, tidak pede, dan tidak ditulis. Tetapi era media sosial sekarang
sangat terbuka sekali peluangnya jangan merasa malu dan jangan merasa jelek.
Puisi yang jelek itu puisi yang tidak ditulis” ungkap Herman Syahara.
Menurut seorang yang memiliki karya
Antologi Puisi tersebut tentang seberapa penting seorang mahasiswa mempelajari
literasi khususnya puisi itu menghaluskan rasa kata para ahli pun untuk
menyeimbangkan otak kita. Setelah menulis puisi tumbuh rasa saying, rasa cinta,
dan lainnya.
Komentar
Posting Komentar