Menyambut Hari Raya: Tradisi Keluarga Sarah di Yogyakarta
Tradisi
menyambut Lebaran ini memang menjadi suatu momen yang sudah ditunggu-tunggu. Keluarga yang
mudik ke kampung halaman berkumpul
bersama keluarga di saat hari kemenangan tiba. Meskipun masih banyak persoalan
hidup masing-masing keluarga, namun untuk urusan yang satu ini memilih untuk meninggalkan sejenak
rutinitas pekerjaan dan memilih berkumpul di Hari Raya Idul Fitri. Kehangatan
dan suasana berkumpul menjadi momentum yang tidak bisa dinilai dengan apapun.
Sarah adalah salah satu anak dari Alm. Husein, ia
sudah lama tidak merasakan mudik akhirnya tahun ini bisa merasakannya kembali. Pulang kampung atau mudik menjadi
kebiasaannya
setiap menjelang IdulFitri atau Lebaran. Aneka barang bawaan diusung untuk
oleh-oleh keluarga di kampung. Yang menggunakan kendaraan
pribadi, demikian pula barang-barang yang biasanya ia bawa banyak
diletakkan di atas mobil. Itulah ciri khasnya saat
mudik, ia bersyukur tahun ini bisa merasakannya lagi untuk mudik ke Yogyakarta
yang merupakan kota kelahirannya.
Saat hari pertama Lebaran, ia mempersiapkan untuk salat id
bersama keluarga di masjid terdekat. Sarah dan keluarga menyempatkan untuk melaksanakan
salat id yang biasanya menggunakan baju gamis berwarna putih. Warna putih
selain terlihat bersih, juga menyiratkan kembali ke suci, kembali ke fitrah
sebagai manusia. Ia juga selalu menggunakan gamis putih
bersama keluarganya, karena memang sejak dahulu ia diajarkan untuk menikmati
rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT beri.
Ia merasa sangat indah dilihat ketika menyaksikan bersama
keluarga masing-masing berangkat ke masjid atau lapangan terbuka untuk
menunaikan salat id. Adik laki-lakinya tampak bersih menggunakan baju
gamis putih, sarung dan kopiah. Sementara ia dan
ibunya juga tampak
cantik menggunakan mukena putih atau warna polos terang dengan bahan yang
tampak adem dan nyaman.
Sarah juga bisa merasakan damai menjalankan salat id bersama keluarga. Usai
salat id, ia dan orang-orang dilingkungan rumah biasanya saling bermaaf-maafan
dengan tetangga atau orang-orang terdekat. Selain
itu yang menjadi sebuah tradisi dikeluarga Sarah ini adalah sungkeman, tradisi sungkeman masih sering dilakukan pada keluarga
Sarah. Sungkeman ini
dilakukan sebagai bentuk bakti sang anak kepada orangtua atau menghormati orang
yang dituakan.
Tata cara
sungkeman Lebaran yang umum dijumpai di masyarakat Indonesia adalah dengan cara
bersimpuh dan mencium tangan. Satu per satu orang yang lebih muda bersimpuh di
bawah kaki orangtua. Orangtua memberikan doa-doa untuk anak-anak dan
cucu-cucunya dan diakhiri dengan saling memeluk dan mencium kening atau pipi
sebagai bentuk kasih sayang dari orangtua. Pada saat sungkeman, saling menangis
sebagai tanda haru, kebahagiaan dan barokah yang sudah diberikan Allah
SWT. Hal tersebut diterapkan kepada keluarga Sarah.
“Momen ini paling haru disaat hari raya, karena aku
tidak tahan mengeluarkan air mata saat sungkeman dan minta maaf sama mamaku,
dan begitu banyak doa terbaik yang mama sampaikan untukku.” Ujarnya.
Sarah merasa sedih dengan adanya sungkeman kepada ibunya.
Setelah sungkeman, ada momen pembagian fitrah yang
biasa disebut dengan THR (Tunjangan Hari Raya). Ini yang biasa ditunggu oleh
saudara-saudara kecilnya dan tetangga yang belum bekerja, terutama anak-anak yang tinggal
di kampung. Usai sungkeman, segerombolan anak-anak kampung bertamu ke rumah
Sarah. Sembari ingin
mencicipi aneka suguhan makanan yang disediakan oleh
keluarga Sarah,
mereka biasanya menunggu pembagian fitrah atau THR darinya. Sarah
merasa bersyukur karena masih bisa berbagi kepada saudara serta tetangga
dikampungnya, ia juga merasa senang jika bermanfaat bagi orang-orang
disekitarnya.
Setelah itu, tradisi pada keluarga Sarah adalah makan
ketupat, opor ayam, sambal goreng kentang, semur, dan tidak lupa makanan asal
kotanya yaitu gudeg. Biasanya
keluarga Sarah membuat opor ayam terenak, karena disajikan untuk orang-orang
tersayang. Kuah opor yang gurih dan daging ayam suwir yang empuk, menjadi
semakin nikmat dicampur dengan sambal goreng kentang dan ketupat yang empuk dan gurih.
Ciri khas tradisi satu lagi tetap ada gudeg, walaupun tidak seperti orang lain
Sarah dan keluarga tetap membuat gudeg.
Di samping
tradisi makanan dan mudik. Sejatinya bagi Sarah, Lebaran merupakan simbol
kemenangan atas sebulan puasa yang telah dijalani. Apalagi ia mengaku, puasa
tahun ini dapat dijalankannya tanpa halangan sedikit pun. "Tahun ini
puasa full alhamdulillah aku bisa 30 hari puasa,
karena bulan lalu aku sempat datang bulan dua kali." celetuknya. Namun, bagi Sarah, tak hanya sebagai hari
kemenangan dari puasa, Lebaran juga menjadi titik tolak untuk menghitung ibadah
yang telah dilakukan. Terlebih, ibadah yang dilakukan saat Ramadan karena
berkali-kali lipat pahalanya.
Ziarah kubur merupakan anjuran dalam syariat Islam yang bisa dilakukan
kapan pun oleh setiap kaum muslimin. Ziarah tidak memiliki waktu secara khusus,
setiap orang boleh melakukannya di waktu apa pun. Begitu juga dianjurkan
melakukan ziarah pada hari raya idul fitri maupun idul adha ke makam keluarga, dan lainnya. Sarah sangat merindukan sosok ayahnya
yang sudah lama tiada sejak ia umur 12 tahun, dimana ia sekarang sudah cukup
dewasa berusia 22 tahun.
Nyekar
atau ziarah ke makam keluarga juga menjadi bagian rencana Sarah yang mudik ke kampung halaman.
Usai mengisi perut dengan opor ayam dan ketupat yang lezat, mereka bergegas
untuk menuju pasar membeli kembang atau bunga tabur. Ia nyekar ke makam
Alm. Ayahnya, yang tidak jauh letak makamnya dari rumahnya.
Komentar
Posting Komentar